Sabtu, 07 Juni 2014

Kejahatan Dalam Dunia Perbankan

KEJAHATAN PADA DUNIA PERBANKAN


Semakin berkembangnya teknologi dalam dunia perbankan maka semakin banyak pula kejahatan yang terjadi didalamnya. Kejahatan tersebut terjadi karena lemahnya sistem pertahanan sehingga para pelaku kejahatan dapat melakukan tindak kriminal yang merugikan. Oleh karena itu diperlukan sumber daya manusia yang ahli dalam bidang  perbankan agar kejahatan tersebut dapat diminimalisir dan juga kewaspadaan yang tinggi dari para pengguna jasa perbankan tersebut. 



1. Kartu ditahan di mesin ATM 


Modus ini menggunakan mesin ATM di mana penjahat memasukkan lidi ke dalam mesin ATM, sehingga kartu nasabah tidak bisa mencapai tombol di dalam ATM dan melakukan transaksi. Dengan demikian, kartu ATM nasabah tidak bisa keluar.


Tidak berhenti sampai di situ, penjahat juga memasang sticker nomor call centre palsu dari bank tersebut. Dengan harapan ketika kartu ATM nasabah terjebak di dalam mesin ATM, nasabah panik dan menghubungi call centre palsu yang sebenarnya merupakan nomor milik si penjahat tersebut.


Ketika nasabah menghubungi nomor palsu, dengan mudah si penjahat menuntun nasabah untuk menyebutkan nomor kartu dan nomor PIN ATM. “Call Centre bank yang asli tidak pernah meminta nomor PIN ATM nasabah. Modus ini biasanya berupa kelompok dengan 3-5 anggota,” tegas Wani.


Wani mengatakan, modus seperti ini biasanya terjadi di Supermarket dengan target ibu-ibu rumah tangga, dan rumah sakit. “Tipsnya harus ingat call centre bank masing-masing,” tutup Wani


 2. Penipuan Facebook


Modus penipuan melalui sosial media memang sering terjadi. Penjahat umumnya melakukan pendekatan personal. “Hati-hati kalau ada orang tidak dikenal minta kenalan lewat Facebook.Salah satu nasabah kami kena penipuan melalui Facebook sampai Rp 1 miliar. Waktu itu sampai Polda Metro Jaya yang mengendalikan Facebook-nya untuk menangkap penjahatnya,” tutur Wani.

Modus melalui Facebook ini terbilang unik. Penipuan dilakukan melalui pendekatan personal. Biasanya sang penipu membuat akun palsu yang berupa perempuan atau laki-laki cantik. Melalui akun tersebut, sang penipu melancarkan aksinya untuk meminta sejumlah uang kepada target.


Sasarannya adalah perempuan atau laki-laki yang kesepian dan membutuhkan teman intim. Wani mengaku untuk kasus penipuan model ini membutuhkan waktu tambahan. Bahkan, penipuan hingga Rp 1 miliar merupakan kasus terlama yang pernah dia tangani.


3. Rekening fiktif lewat SMS


Penjahat dengan modus ini membuka rekening palsu menggunakan identitas palsu. Kemudian rekening ini digunakan sebagai alat transfer uang. “Biasanya penyebarannya melalui SMS, misalnya ada SMS tolong transfer ke rekening sekian-sekian, biasanya menjelang hari-hari besar yang orang memang perlu transfer untuk melunasi pembayaran tertentu,” ujar dia.

Cara lain adalah penjahat menghubungi dengan berpura-pura menjadi suami atau anak dari korban mengalami kecelakaan. Kemudian minta transfer agar segera bisa diproses di Rumah Sakit.


“Penjahatnya itu gampang mendapatkan nomor HP, dari penjual HP yang menjual nomor HP, dia cuma lihat kemudian dia merunut angkanya lalu menyebar hingga 1.000 SMS ke berbagai nomor.


4. Skimming EDC (electronic data capture)


Kemudahan pembayaran menggunakan ATM Debit atau Kartu Kredit juga menjadi celah bagi penjahat untuk dapat menguras simpanan nasabah. Targetnya adalah melalui EDC.

“Sekarang sudah jarang skimming melalui ATM, sekarang lebih kepada skimming EDC. Saat melakukan pembayaran menggunakan ATM debit, gunakan dua tangan di mana satu tangan menutupi tangan lain yang menekan tombol-tombol PIN. Kalau membayar menggunakan APMK, pastikan proses pembayaran aman,” tutur Wani.


Modus ini telah dijumpai di kasus gerai Body Shop Indonesia yang tengah diselidiki oleh pihak Bank Indonesia.


5. Melalui mobile banking


Wani memaparkan penjahat menghubungi nasabah dengan modus memenangkan undian. Apabila nasabah percaya, maka langkah berikutnya adalah menggiring nasabah ke Mesin ATM untuk melakukan registrasi penggunaan mobile banking.  Namun, penjahat akan menggiring nasabah untuk memasukkan nomor HP milik penjahat tersebut, bukan nomor HP milik nasabah yang bersangkutan. Penjahat juga akan meminta nasabah memasukkan PIN sebagai akses masuk mobile banking.

“Nomor HP milik si penjahat, plus PIN-nya juga, penjahat bebas menguras simpanan nasabah,” tutur Wani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar